Kamis, 10 Agustus 2017

Cerpen Pacar

Saya seorang penulis pemula yang masih perlu banyak belajar. Mohon kritikannya terhadap cerpen saya ini. Terima kasih.

PACAR
“Dita! Ega! Cepetan dong jalannya!” teriak seorang gadis di kejauhan.
Dita dan Ega pura-pura tidak mendengar. Dita dan Ega jadi gemas melihatnya. Setiap kali berangkat sekolah bareng, gadis yang bernama Meysa itu selalu berjalan cepat sehingga Dita dan Ega selalu ketinggalan.
“Dita! Ega! Cepetan!” teriaknya kembali.
Dita dan Ega pun akhirnya mempercepat langkah mereka. Mereka tampak terengah-engah menyusul Meysa.
“Lama amat, sih!” ucap Meysa kesal.
“Kamu aja yang jalannya kecepetan,” protes Dita.
“Ya, nih. Kalau kamu begini terus, jalan cepet-cepet, wajah kucel begitu, kapan kamu punya pacar, Mey?” timpal Ega.
“Kalau soal pacar nanti aja dipikirin. Lagian aku males juga kalau punya pacar, ribet urusannya. Ayo jalan!” ucap Meysa lalu kembali melangkahkan kakinya.
Dita dan Ega menghela napas panjang melihat tingkah sahabatnya itu. Dita dan Ega pun melangkahkan kakinya menyusul Meysa yang sudah berjalan agak jauh meninggalkan mereka.
***
Bel tanda pulang sekolah telah berbunyi. Seperti biasa semua siswa di sekolah buru-buru memasukkan buku mereka ke dalam tas lalu berbondong-bondong meninggalkan sekolah. Begitu dengan Meysa, Dita, dan Ega yang mempercepat gerakan tangan mereka memasukkan buku-buku ke dalam tas.
“Dit, Ega, hari ini aku nggak pulang bareng sama kalian, ya…,” ucap Meysa sambil melingkarkan tas punggungnya.
“Kok tumben nggak pulang bareng sama kita?” tanya Dita menatap Meysa yang hendak meninggalkan kelas.
“Hari ini aku di jemput. Duluan, ya….” Meysa pergi meninggalkan Dita dan Ega di kelas.
Dita dan Ega menatap aneh pada Meysa yang pergi dengan tergesa-gesa. Ada rasa penasaran yang muncul di hati mereka. Mereka pun mempercepat langkah kaki mereka untuk melihat orang yang menjemput Meysa pulang.
Dengan napas terengah-engah, mereka akhirnya sampai di dekat pos satpam yang berada tak jauh dari pagar sekolah. Sungguh suatu keberuntungan Meysa masih berada di depan pagar sekolah. Sebuah motor sport berwarna hitam tiba-tiba berhenti tepat di hadapan Meysa. Terlihat seorang cowok memberikan helm padanya. Meysa terlihat senang menerimanya. Meysa pun langsung duduk dibelakangnya.
“Meysa dijemput sama siapa tuh, Dit?” tanya Ega tanpa mengalihkan pandangannya pada Meysa yang tengah melaju meninggalkan sekolah.
Dita hanya mengendikkan bahu, tak tahu menahu mengenai cowok yang menjemput Meysa itu. Dita berpikir sejenak. “Jangan-jangan…,” ucap Dita terputus di bagian akhir.
Ucapannya itu membuat Ega penasaran. “Jangan-jangan apa? Jangan bikin penasaran, dong!” sahut Ega yang tak puas dengan ucapan Dita.
“Jangan-jangan cowok yang jemput Meysa tadi pacarnya,” tebak Dita menatap Ega.
Dita dan Ega sama-sama dibuat pusing dan juga penasaran oleh Meysa. Banyak sekali pertanyaan yang hinggap di pikiran mereka. Daripada tambah pusing, Dita dan Ega pun melangkahkan kakinya pulang ke rumah.
***
Keesokan harinya…
Pagi-pagi sekali Dita dan Ega datang ke sekolah. Hanya ada beberapa murid yang sudah berada di sekolah. Ketika hendak memasuki pagar sekolah, sebuah motor sport berhenti tepat di depan mereka. Meysa langsung turun dari motor tersebut.
“Nanti kujemput, ya. Dah…,” ucap cowok itu sambil menutup kaca helmnya lalu pergi meninggalkan Meysa.
Meysa melambai-lambaikan tangannya. Sikapnya dibuat semanis mungkin. Berbeda sekali dengan sikapnya di sekolah, apalagi bila bersama Dita dan Ega.
Dita dan Ega menatap aneh pada Meysa. Tak biasanya sikapnya begitu manis pada seseorang.
“Meysa, yang tadi mengantar kamu siapa?” tanya Dita penasaran.
“Mau tau aja,” sahut Meysa berjalan cepat meninggalkan Dita dan Ega.
Dita dan Ega segera menyusul Meysa. Rasa penasaran membuat mereka rela mengejar Meysa.
“Kasih tau dong, Mey! Siapa cowok itu?” tanya Ega semakin penasaran.
“Pacar kamu, ya? Kok nggak bilang-bilang ke kita? Apa kamu takut kalau kami godain pacarmu?” tebak Dita berjalan mengikuti Meysa.
Meysa pun menghentikan kedua kakinya. Dia langsung menoleh ke arah Dita dan Ega yang berdiri di belakangnya. Dia lalu tertawa kecil melihat wajah Dita dan Ega yang begitu penasaran. “Pacar? Cowok yang mengantar aku tadi?” tanya Meysa menatap lucu pada Dita dan Ega.
Dita dan Ega sama-sama menganggukkan kepala. Mereka semakin tak sabar menunggu jawaban Meysa.
“Cowok yang mengantar aku tadi namanya Kak Marco. Dia itu kakakku. Mumpung lagi liburan semester dan daripada nggak ada kerjaan, lebih baik antar jemput aku sekolah,” jelas Meysa.
Dita dan Ega sama-sama menghela napas panjang. “Oh… kirain pacar kamu,” ucap mereka serempak.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wanita Di tepi Jalan

WANITA DI TEPI JALAN     Sudah hampir satu jam aku melihatnya di sana. Seorang wanita tua renta sedang duduk di tepi jalan. Pe...