Kamis, 10 Agustus 2017

Cerpen Cinta yang Seharusnya Indah


CINTA YANG SEHARUSNYA INDAH
Aku sangat menyukainya. Setiap kali aku melihatnya datang ke rumah, jantung ini rasanya berdebar-debar. Sayangnya perasaan ini tak sama dengannya. Dia telah memilih gadis lain. Gadis yang sangat cantik dan lembut hatinya. Helena namanya, gadis yang berhasil membuat Victor jatuh cinta. Hatiku rasanya sakit seperti teriris-iris pisau. Tapi aku lebih memilih menyerah daripada memperjuangkan perasaan ini. Aku menyerah demi kebahagiaan Helena, kakakku sendiri. Aku tak mau merusak senyumannya yang begitu hangat. Hanya dia, orang yang paling berharga selain kedua orang tuaku.
Malam minggu kali ini terasa begitu sunyi. Bintang-bintang pun enggan menampakkan dirinya di langit yang gelap. Biasanya setiap malam minggu Kak Helena pergi bersama Victor pacarnya. Tapi sepertinya hal itu tidak berlaku padanya untuk malam ini. Kak Helena lebih memilih menonton televisi di ruang tengah sambil makan beberapa camilan. Terdengar suara tawanya yang memecah kesunyian rumah yang memang hanya ada aku dan Kak Helena saja. Kedua orang tua kami sedang sibuk-sibuknya bekerja di luar kota.
Aku duduk di atas kasurku yang empuk, melakukan kegiatan yang biasanya kulakukan setiap menjelang tidur. Membaca novel menjadi pilihanku untuk mengantarkanku ke alam mimpi. Kututup mataku, pikiranku melayang-layang membayangkan diriku menjadi tokoh utama dalam novel yang kubaca. Aku senyum-senyum sendiri, perasaanku sangat senang. Tiba-tiba saja sosok Victor hadir dalam lamunanku. Aku langsung membuka mata, membuang jauh-jauh bayangan Victor dari dalam kepalaku. Aku menghela napas panjang. Sulit sekali melupakanmu Victor, keluhku dalam hati.
Aku menandai halaman novel yang belum kubaca, kemudian menutup novel itu dan meletakkannya di atas meja sebelah kasurku. Aku lalu mempertajam indera pendengaranku. Tak kudengar lagi suara tawa kakakku ataupun volume televisi yang sejak tadi terdengar hingga ke kamarku. Aku melirik jam yang tertempel pada dinding kamarku. Jam baru menunjukkan 21.30, tak biasanya rumah begitu sepi. Tak seperti biasanya Kak Helena tidur di jam-jam segini. Aku pun beranjak dari tempat tidurku untuk memastikan apakah Kak Helena benar-benar sudah tidur di kamarnya.
Aku tak menemukan Kak Helena sama sekali di kamarnya. Aku pun berjalan menelusuri setiap ruangan yang ada di dalam rumah.
“Kakak!” teriakku sekencang-kencangnya.
Tak kudengar sama sekali suara kak Helena. Aku langsung merogoh saku celanaku. Kuambil ponsel dan mencoba menelponnya. Lagi-lagi aku bingung dibuatnya. Tak biasanya Kak Helena tak menjawab telepon dariku. Tiba-tiba firasat buruk hinggap di kepalaku. Perasaanku kini gelisah dan juga takut.
***
BRAK!
Aku sangat terkejut. Ku edarkan pandanganku disekitar tempatku berdiri, tapi tak ada siapa-siapa di sana. Aku mulai takut, pikiranku pun mulai menduga-duga. Aku langsung menepis pikiranku yang mulai mengada-ngada. Kumantapkan pikiranku dan melangkah mencari asal suara itu.
BRAK!
Suara itu lagi. Kali ini suara itu berhasil membuat jantungku berdebar kencang. Keberanian yang sudah ku kumpulkan hilang dalam sekejap. Aku mencoba mengumpulkan keberanianku lagi. Kutarik napas dan membuangnya perlahan. Pikiranku sedikit tenang. Aku pun kembali jalan mencari asal suara itu.
BRAK!
Langkah kakiku kembali berhenti. Kali ini suara itu terdengar sangat jelas. Terlihat pintu dapur terbuka lebar. Aku melangkah masuk ke dapur, berharap Kak Helena ada di sana. Lagi-lagi aku tak menemukan sosok Kak Helena di sana. Aku mulai putus asa mencarinya. Suara itu pun tak terdengar lagi. Entah kenapa suasana dapur kini terasa begitu menyeramkan. Aku bergindik ngeri.
***
Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari arah lemari makanan. Dengan jantung yang semakin berdebar, aku mendekati lemari makanan itu dan kubuka dengan pelan. Aku terperangah, mataku tak berkedip sama sekali. Kak Helena yang sejak tadi kucari ternyata berada di dalam lemari makanan dengan kaki dan tangannya yang terikat serta mulut  yang tertutup kain. Cepat-cepat kulepaskan ikatannya dan menariknya keluar.
“Alena, cepat telpon polisi!” ucap Kak Helena panik.
“Emangnya ada apa Kak? Kenapa Kakak bisa ada di dalam lemari makanan?” tanyaku bingung sembari mengambil ponsel di saku celana.
“Ada maling di rumah kita. Cepat telpon polisi!” pinta Kak Helena sembari berjaga-jaga. Matanya terus menerawang di sekitar tempatku berdiri. Secepat kilat tangannya mengambil sapu.
Aku langsung menelpon polisi. Dengan mengendap-endap, aku dan Kak Helena beranjak keluar dari dapur. Sayangnya langkah kaki kami terpaksa berhenti. Seorang pria kini berdiri tepat dihadapan kami. Aku dan Kak Helena perlahan mundur ke belakang. Aku dan Kak Helena tak dapat melihat wajahnya karena dia menggunakan topi yang hampir menutupi matanya dan masker penutup mulut. Tapi anehnya aku seperti mengenal sosok pria yang sedang mengancam nyawa kami sekarang. Kak Helena mengayunkan sapu yang di bawanya ke pria itu. Pria itu dengan sigap menangkis sapu yang diayunkan Kak Helena dan mendorongnya hingga jatuh. Melihat Kak Helena terjatuh, aku tak terima. Dengan perasaan marah yang menggebu-gebu, aku berlari cepet ke arahnya dan mencakar wajahnya seperti monyet. Dia lalu membantingku. Aku terjatuh, kepalaku mengenai meja makan. Darah kini mengalir di kepalaku. Kepalaku terasa sakit dan juga pusing, tapi kutahan demi Kak Helena.
“Dasar gadis gila!” ucap pria itu marah. Dengan perlahan-lahan dia berjalan mendekatiku yang terduduk di lantai. Aku sangat ketakutan dan perlahan mundur. Aku terpojok. Pria itu semakin dekat denganku. Kak Helena tiba-tiba berdiri di hadapanku.
“Jangan macam-macam! Sebaiknya kamu pergi sebelum polisi datang menangkapmu,” ucap Kak Helena.
“Sebelum aku ditangkap, aku akan membunuh kalian berdua dulu,” ucap pria itu. Dia menggenggam tangan Kak Helena dengan kasar dan menamparnya.
“Hentikan! Kumohon hentikan!” ucapku menangis.
“Aku tidak akan melepaskan kalian. Kalian akan mati malam ini,” ucap pria itu tertawa.
Aku terdiam. Suara pria itu tampak tak asing bagiku. Dia masih menampar Kak Helena dan tanpa malu menjambak rambut Kak Helena. Aku tidak bisa berdiam diri. Dengan menahan rasa sakit di kepala, aku bangkit dan berusaha menolong Kak Helena. Aku didorong olehnya hingga terjatuh. Begitu pula Kak Helena yang berusaha membantuku. Tapi untungnya usahaku tadi tak sia-sia. Aku berhasil membuat pipinya berdarah. Kak Helena pun berhasil melepaskan masker penutup mulut pria itu.
“Victor!” ucapku dan Kak Helena terkejut.
“Ya sayang. Ini aku, Victor pacar kesayanganmu,” ucap Victor dengan seringainya yang mengerikan.
“Kenapa kau lakukan ini? Selama ini aku percaya sama kamu, tapi apa yang kamu lakukan sekarang?” ucap Kak Helena marah.
Victor lalu jongkok dan menatap wajah kami dengan tatapannya yang meremehkan. “Kalian kan anak orang kaya. Bila kuambil sedikit harta kalian, kalian tidak akan miskin bukan.”
“Bukankah kau menyukai Kak Helena. Seharusnya kau tidak melakukan ini pada Kak Helena,” ucapku marah.
“Aku suka sama Kakakmu? Asal kamu tau saja, sejak awal aku hanya memanfaatkan Kakakmu yang sok cantik ini untuk masuk ke rumah ini,” ucap Victor sembari mengelus-elus wajah Kak Helena yang tampak merah.
“Keterlaluan kau Victor! Aku benci sama kamu!” Kak Helena lalu menampar wajah Victor.
Aku merasa kasihan kepada kak Helena. Ternyata selama ini orang yang disukainya hanya memanfaatkannya saja. Bila diingat-ingat, aku merasa kasihan pada diriku sendiri. Selama ini bisa-bisanya aku menyukai orang jahat seperti Victor.
Victor bangkit lalu mengambil pisau dapur yang tergeletak di atas meja. “Matilah kalian berdua!” Victor mengarahkan pisau dapur ke arah kami.
Aku dan Kak Helena langsung berdiri. Kami terpojok, tak dapat melarikan diri sama sekali. Kak Helena langsung berdiri tepat di hadapanku.
“Victor, hentikan! Kau boleh ambil apapun di rumah ini. Kau juga boleh melakukan apapun padaku, asal lepaskan adikku sekarang,” ucap Kak Helena. Matanya mulai meneteskan air mata.
“Kalian berdua memang payah. Adikmu suka padaku, tapi dia rela melihatku bersamamu. Sedangkan kau rela mati untuknya. Tapi sayangnya malam ini kalian harus mati di tanganku,” ucap Victor tertawa sembari memainkan pisaunya.
Victor mendekat dengan menggenggam pisau dapur. Kak Helena sama sekali  bergeming. Pisau dapur dengan cepat di arahkan kepada Kak Helena. Aku langsung mendorong Kak Helena. Pisau dapur yang digenggam Victor kini bersarang di perutku. Dengan tenaga yang kumiliki, aku mencabut pisau yang ada di perutku dan menusuk bahu Victor. Victor berteriak kesakitan, sedangkan aku terduduk tak bertenaga di lantai. Kak Helena menopang tubuhku yang lemah agar tak jatuh. Dia membelai rambutku dan menangis sejadi-jadinya.
“Berhentilah menangis! Aku nggak suka melihat Kakak menangis,” ucapku dengan lemah.
“Maafkan Kakak! Kalau saja Kakak tau kalau Victor itu jahat, Kakak nggak akan termakan rayuannya. Kamu juga nggak akan seperti ini sekarang. Semua salah Kakak,” ucap Kak Helena sembari menghapus air matanya.
“Jangan menyalahkan diri sendiri! Aku juga salah karena dulu aku juga menyukainya,” aku tersenyum kecut pada Kak Helena.
“Bertahanlah! Sebentar lagi polisi tiba.”
“Kau gadis gila! Berani-beraninya kau menusukku,” ucap Victor bangkit. Dengan tertatih-tatih Victor mendekat.
Polisi tiba pada waktu yang tepat. Victor langsung ditangkap dan diseret keluar layaknya hewan. Kak Helena masih menangis melihatku. Aku merasa sedih melihat Kak Helena seperti itu. Semakin lama pandanganku semakin kabur, hingga akhirnya yang terlihat hanya kegelapan saja. Sebelum aku tak sadarkan diri, aku mendengar Kak Helena berteriak memanggil namaku.

     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Misteri Wanita Berbaju Merah

Misteri Wanita Berbaju Merah Aku selalu melihatnya setiap kali melintasi halte bis. Seorang wanita memakai baju merah berdiri di ...