Kamis, 10 Agustus 2017

Valentine



VALENTINE
Kedua mata Nela tak pernah lepas dari segala gerak-gerik seorang cowok yang bernama Nasrul. Apapun kegiatan yang Nasrul lakukan di sekolah, Nela pasti tahu dan menatapnya dari jarak yang dapat dibilang cukup jauh. Sejak pertama masuk SMA, perhatian Nela selalu tertuju padanya. Bahkan bayangan dirinya pun selalu saja menghantui pikiran Nela.

Beberapa hari lagi adalah hari valentine. Kebanyakan orang pasti akan merayakannya, terutama bagi pasangan muda-mudi. Di hari yang istimewa itu, mereka akan saling menukar kado sebagai tanda kasih sayang. Kadang Nela merasa iri pada teman-temannya yang sudah mempunyai pacar. Tapi di hari valentine ini, dia membulatkan tekadnya untuk menyatakan perasaannya pada Nasrul.

***

Bel sekolah tanda pulang telah berbunyi nyaring. Seperti hari-hari biasanya, Nela pulang bersama Tasya. Tiba-tiba saja langkah kaki Nela terhenti. Kedua bola matanya terpaku menatap pemandangan yang ada di depan matanya saat ini. Nela sungguh shock melihat Nasrul berboncengan dengan seorang cewek. Mereka terlihat begitu mesra.

“Nel, sebaiknya kamu lupakan saja Nasrul! Masih banyak kok cowok yang lebih tampan dari dia,” ucap Tasya tiba-tiba.

Nela menoleh aget ke arah Tasya. Tak biasanya Tasya berkata seperti itu padanya. Biasanya Tasya yang paling semangat meminta dirinya untuk mengatakan perasaannya kepada Nasrul. Tapi tidak hari ini. Wajahnya kini menatap sedih ke arah Nela.

“Maaf ya, Nel! Bukannya aku tidak mendukung lagi perasaanmu pada Nasrul, tapi dari gosip-gosip yang kudengar...”

“Gosip apaan?” potong Nela bingung dan juga penasaran.

Tasya menatap khawatir pada sahabatnya itu. Dia tak tega untuk memberitahukannya pada Nela. Tapi apa boleh buat, Nela sudah terlanjur melihat pujaan hatinya dengan cewek lain. Tasya pun menghembuskan napas berat dan berkata, “Dari gosip yang kudengar, Nasrul sudah punya pacar. Namanya Citra, adik kelas kita yang baru masuk. Katanya sih dia cantik dan pintar, makanya Nasrul suka sama dia.”

Nela terdiam. Pikirannya sangat kacau. Sedih, kecewa, dan menyesal karena terlambat untuk memberitahukan perasaannya kepada Nasrul, semuanya bercampur aduk di dalam hatinya. Tanpa sadar butir-butir air mata menetes di kedua pipinya.

“Maaf ya, Nel! Sebenarnya aku nggak mau mengatakan ini sama kamu, tapi daripada kamu semakin suka dan susah melupakannya, lebih baik kubilang sekarang,” ungkap Tasya semakin khawatir.

“Aku nggak apa-apa,” jawab nela mencoba untuk tenang. Dia segera menghapur air matanya. “Ayo pulang!”

Tasya menurut saja. Dia berjalan mengikuti langkah Nela. Tak sepatah kata pun yang berani keluar dari mulutnya. Dia merasa bersalah pada Nela. Menurutnya ini lebih baik bagi Nela, daripada perasaannya semakin dalam dan akhirnya susah untuk melupakan Nasrul.

***

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Beberapa penghuni kelas secara terang-terangan memberikan kado spesial untuk para pasangannya. Nela terlihat sangat murung. Kado yang susah payah dia buat akhirnya tak jadi diberikan kepada Nasrul.  Dia juga mengurungkan niatnya untuk menyatakan perasannya yang sebenarnya. Dia tak mau menjadi pengganngu bagi hubungan Nasrul dan Citra.

Semakin hari Nasrul dan Citra terlihat semakin mesra. Nasrul bahkan tak segan-segan mengelus lembut rambut Citra. Hal itu membuat hati Nela semakin sakit. Walaupun Nela berusaha untuk melupakan sosok Nasrul dalam pikirannya, tapi hatinya masih tertuju padanya.

Bel sekolah tanda pulang telah berbunyi nyaring. Semua penghuni sekolah berbondong-bondong menuju pintu gerbang sekolah. Hari ini Nela terpaksa pulang sendirian. Tasya dengan senangnya dijemput oleh pacarnya. Nela melangkahkan kakinya dengan gontai. Tetapi, ketika hendak keluar dari gerbang sekolah, tiba-tiba saja Nasrul dan Citra mencegatnya.

“Hai, bisa bicara sebentar?” tanya Nasrul tiba-tiba.

Nela menjadi canggung. Dia tak tahu harus berbuat apa sekarang. Kenapa harus ketemu sama dia sih? Aku harus gimana nih sekarang? Pikirnya resah.

“Hei!” panggil Nasrul menatap aneh.

“Iya, kenapa?” jawab Nela spontan. Dia terlihat sangat gugup.

“Kau Nela kan? Aku sering lihat kamu saat sedang latihan voli,” ucapnya tersenyum.

Nela benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Jantungnya sejak tadi terus berdetak cepat. Baru pertama kali dia berhadapan langsung dengan Nasrul, cowok yang sangat disukainya itu.

Nasrul pun terlihat gugup dan gelisah. Nela semakin deg-degan dibuatnya. Tapi Nela tak ingi berpikir macam-macam. Dia sadar bahwa Nasrul sudah menjadi milik gadis lain. Kedua mata Nasrul kini menatapnya lekat. Dengan suara bergetar Nasrul berkata, “Aku menyukaimu, Nel. Kamu mau nggak jadi pacarku?”

Nela menatapnya tak percaya. Dia sulit mempercayai pendengarannya sendiri. “Kamu suka sama aku?”

Nasrul tersenyum. “Iya, aku suka sama kamu. Gimana? Kamu mau nggak jadi pacarku?”

Wajah Nela merona seketika. Hatinya benar-benar sangat senang sekarang. Dia tak menyangka Nasrul menyukainya. Tapi tiba-tiba dia menatap bingung. “Bukannya kau sudah punya pacar? Kenapa kau bilang suka sama aku?”

“Pacar?” tanya balik Nasrul dengan tatapan bingung.

“Bukannya kau pacaran sama Citra? Apa kau mau mempermainkanku?”

Yang ditanya malah tertawa. Begitu pula dengan Citra yang sejak tadi berdiri di samping Nasrul.

“Kak Nela jangan percaya sama gosip itu! Aku dan Kak Nasrul sengaja membuat gosip seperti itu untuk menjauhkan gadis-gadis yang suka mendekati Kakak,” jelas Citra.

“Apa gara-gara gosip ini, akhir-akhir ini kamu jarang menontonku bermain voli di lapangan?” tanya Nasrul.

“Dari mana kau tau aku sering menontonmu?” Nela semakin malu. Wajahnya kembali merona.

“Dari temanmu, Tasya. Tadi pagi dia menghampiriku dan marah-marah. Dia juga mengatakan yang sebenarnya padaku. Gara-gara dia, aku membawa Citra ke sini untuk menjelaskan semuanya padamu. Kenalkan dia adikku, Citra,” jelas Nasrul.

Wajah Nela semakin merona. Dia malu sudah percaya begitu saja gosip yang beredar tanpa menanyakannya dulu kebenarannya. Dia benar-benar merasa sangat malu. Ternyata selama ini, dia sudah cemburu pada Citra yang ternyata adiknya Nasrul.

“Kamu mau kan jadi pacarku?” tanya Nasrul penuh harap.
Nela mengangguk sebagai tanda menerimanya. Nasrul lalu mengambil sebuah kado dari dalam tasnya dan memberikannya pada Nela. Akhirnya di hari valentine ini, Nela mendapat kado istimewa dari cowok yang disukainya. Secara tak langsung semua berkat sahabatnya, Tasya. #ref-menu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Misteri Wanita Berbaju Merah

Misteri Wanita Berbaju Merah Aku selalu melihatnya setiap kali melintasi halte bis. Seorang wanita memakai baju merah berdiri di ...