This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 30 September 2017

Hujan Terakhir



HUJAN TERAKHIR
 


Di balik jendela kaca kamar, aku menatap butir-butir air hujan yang turun begitu derasnya. Hujan membasahi setiap bunga yang tumbuh di pekarangan rumahku. Bunga-bunga itu terlihat begitu segar, seakan bergembira karena bermandikan hujan. Aku begitu menikmatinya. Sungguh pemandangan yang menyejukkan mata. Suara butir-butir air hujan yang turun membuat pikiranku kembali ke masa lalu.
“Berjanjilah padaku! Setiap hujan turun, kau akan selalu mengingatku!”
Kata-kata itu masih tersimpan erat di memori ingatanku. Kata-kata yang terlontar langsung dari bibir seorang cowok yang menjadi cinta pertamaku. Aku menepati janji itu. setiap hujan turun, aku akan mengingatnya di mana pun aku berada. Dan karena dialah, aku menyukai hujan.
***
Teddy namanya. Seorang cowok tampan yang sangat menyukai hujan. Baginya, hujan itu seperti cinta. Dia akan selalu kembali menurunkan butir-butir kasihnya demi makhluk yang disayanginya. Memberinya kehidupan dan menjaganya.
Mungkin ini terdengar aneh bagi orang lain. Tapi dia tak pernah memperdulikannya. Dia tetap menyukai hujan bahkan tanpa ragu bermain hujan. Bagiku, dia seperti anak kecil yang suka bermain hujan. Tapi lucunya, dia cowok pertama yang berhasil membuatku jatuh cinta.
Di bawah payung biru, aku perlahan mendekatinya. Dia hanya berdiri mematung, membiarkan dirinya basah disiram hujan. Sorot matanya tampak berbeda saat menatapku, seperti menyiratkan sesuatu yang sama sekali tak bisa ku baca.
“Aku mencintaimu. Percayalah, hatiku akan slalu menjadi milikmu,” ucapnya seraya memegang tangan kiriku.
Ucapannya membuatku tak tahu harus bersikap apa. Wajahku seketika merona. Kata cinta yang sudah lama kutunggu dari bibirnya.
“Berjanjilah padaku! Setiap hujan turun, kau akan slalu mengingatku!” ucapnya kembali. Kedua matanya yang biasanya selalu lembut berubah hampa.
Aku menatap bingung padanya. Tak biasanya dia bersikap seperti itu. Entah kenapa aku merasa gelisah. Perasaanku sama sekali tak enak tentangnya.
“Shila!” panggilnya agak nyaring.
Aku tersadar dari lamunanku. Suara hujan yang turun dengan derasnya membuat suaranya tak begitu terdengar di telingaku. “Kenapa, Ted?”
“Shila, berjanjilah padaku! Kau akan slalu mengingatku saat hujan turun!” ucapnya memohon padaku.
“Kenapa kau bilang seperti itu? Apa kau akan pergi jauh dariku?” tanyaku bingung dengan sikapnya.
Teddy terdiam. Aku bisa melihat sorot matanya yang kini berubah sedih. Dia menghembuskan napas berat lalu berkata padaku, “Aku hanya ingin kau selalu memikirkanku saat hujan. Setiap tetes hujan yang menjadi saksi akan rasa cinta yang selama ini aku rasakan padamu. Aku mencintaimu, Shila. Cintaku akan selalu berada di hatimu, seperti hujan yang selalu kembali turun ke tanah.”
Aku tersenyum senang mendengarnya. Aku pun berjanji padanya akan selalu mengingatnya saat hujan turun. Tapi hati ini merasa semakin tak karuan, seperti mendapat firasat buruk tentangnya.
***
Sudah sebulan ini aku tak melihat Teddy. Semua sms yang kukirim padanya, tak ada satu pun yang dibalas. Biasanya setiap kali kutelepon dirinya, panggilanku selalu di terima tapi tak terdengar sama sekali suaranya. Tapi akhir-akhir ini nomor teleponnya tak pernah aktif. Aku semakin gelisah. Firasatku benar-benar buruk tentang Teddy. Aku bertanya pada semua teman-temanmu, tapi tak ada satu pun yang tau keberadaanmu. Aku pun mencoba mencari ke rumahnya. Rumah itu terlihat kosong tak berpenghuni.
Teddy seperti menghilang di telan bumi. Aku benar-benar merindukannya. Aku sudah mencarinya ke mana-mana, tapi tak terlihat sedikit pun tanda-tanda keberadaannya. Tiba-tiba aku teringat pada janji yang kulakukan saat itu. Apakah janji itu adalah kalimat terakhir darinya? Apakah Teddy meninggalkanku? Pikirku resah. Aku segera menepis pikiran itu dan membuangnya jauh-jauh dari otakku.
Aku berjalan pelan menelusuri taman, tempat di mana aku dan Teddy sering menghabiskan waktu bersama dengan hujan. Kedua bola mataku tiba-tiba menangkap sosok yang terlihat tak asing lagi bagiku. Kedua mata kami pun bertemu. Sosok wanita paruh baya itu lalu menghampiriku.
“Shila, sudah lama nggak ketemu. Kamu semakin cantik aja. Bagaimana kabarmu?” sapa wanita paruh baya itu kepadaku.
“Alhamdulillah, baik. Tante, aku mau tanya sesuatu sama Tante,” tanyaku tanpa basa-basi.
“Emangnya kamu mau tanya apa?” tanyanya bingung.
“Teddy ada di mana sekarang, Tan? Semua sms dariku tak pernah dibalas. Teleponku juga nggak pernah diangkat sekarang. Aku ke rumah Tante, tapi rumah Tante selalu kosong. Aku benar-benar khawatir sama Teddy, Tan. Perasaanku sama sekali nggak enak tentangnya,” ungkapku akhirnya.
Wanita paruh baya itu yang tak lain adalah mamanya Teddy tiba-tiba menatap sedih ke arahku. Dia lalu mengeluarkan sepucuk surat dari dalam tasnya dan menyerahkannya padaku.
“Surat apa ini, Tan?” tanyaku seraya menerimanya dengan ragu.
“Bukalah! Itu surat dari Teddy. Maaf, Tante baru bisa menyerahkannya sekarang padamu.”
Aku pun segera membuka surat itu. Tiap baris tulisan yang kukenal terpampang dalam kertas putih di hadapanku.
“Shila, aku selalu mencintaimu. Bersama hujan turun, jiwaku akan selalu berada di sisimu. Maafkan aku yang tak pernah jujur akan kondisi diriku. Aku tak ingin melihat air matamu. Aku juga tak ingin kau memperlakukanku berbeda. Selama ini aku menderita leukimia. Aku sekarat. Tak ada orang lain yang tau tentang kondisiku selain keluargaku. Sudah cukup aku lihat kesedihan dari keluargaku. Aku tak ingin orang lain bersedih karenaku, terutama kamu, Shilaku sayang. Bila kau membaca surat ini, itu berarti aku telah pergi jauh meninggalkanmu selamanya. Jangan pernah menangis untukku! Ingatlah pada janjimu padaku! Percayalah, walaupun ragaku telah terkubur, jiwaku akan datang ketika kau memikirkanku saat hujan. Lanjutkanlah hidupmu! Aku hanya ingin melihatmu bahagia.”
Aku terdiam. Air mataku seketika mengalir di pipi. Tanganku gemetar memegang surat di tanganku. Hujan tiba-tiba turu dengan derasnya. Mama Teddy mengajakku berteduh, tapi aku hanya berdiri mematung. Air mataku kini tak terlihat lagi, terhapus oleh tetes-tetes hujan yang turun. Kubiarkan diriku basah kuyup, berharap dia tahu betapa sedih dan kecewanya aku saat ini.
***
Aku masih asyik menatap hujan yang turun. Seperti janjiku padanya dulu, aku selalu memikirkannya setiap hujan turun. Seperti perkataannya dalam surat, aku melanjutkan hidupku. Aku bertemu dengan seorang pria yang juga menyukai hujan. Aku menikah dengannya dan di karuniai seorang anak yang sangat tampan. Sama seperti ayahnya dan Teddy, anakku juga menyukai hujan. Dia bahkan tak ragu bermain dengan hujan. Aku menamainya sama denganmu. Teddy, cinta pertamaku.

Hujan Terakhir

HUJAN TERAKHIR   Di balik jendela kaca kamar, aku menatap butir-butir air hujan yang turun begitu derasnya. Hujan membasahi s...