Kamis, 10 Agustus 2017

Cowok Berkacamata



COWOK BERKACAMATA


HAH! HAH! HAH!
Dengan napas yang terengah-engah, Tiara masuk ke rumahnya dan segera mengunci pintu rumahnya. Tiara masuk dengan perasaan lega. Ia pun kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa hijau yang ada di ruang tengah dan mengatur napasnya yang tak beraturan.
Sudah beberapa hari ini ada seorang cowok mengikuti Tiara. Cowok itu selalu mengenakan jaket hitam dan ada kacamata yang bertengger di batang hidungnya. Awalnya Tiara tak memperdulikannya, mungkin cowok itu hanyalah orang iseng yang tak ada kerjaan. Tapi lama kelamaan, ia merasa tak nyaman. Setiap keluar rumah, ia selalu was-was dan mempercepat langkah kedua kakinya.
Bel sekolah tanda pulang akhirnya berbunyi nyaring. Satu per satu penghuni kelas meninggalkan sekolah. Tiara buru-buru memasukkan bukunya ke dalam tas. Ia melirik ke arah Wina. Terlihat Wina juga masih memasukkan buku-bukunya. Tiara menghembuaskan napas, mengumpulkan keberanian untuk mengajaknya pulang bersama. Sebenarnya Tiara tak begitu akrab dengan Wina. Ia hanya sering berpapasan dengannya lalu diam begitu saja.
“Hai, Win,” sapa Tiara menghampiri Wina.
Wina menoleh kaget ke arah Tiara. Tak biasanya Tiara yang pendiam menyapanya.
“Hai juga,” balasnya tersenyum.
Tiara merasa tak enak dengan Wina. Sudah lama sekelas dengannya, tapi baru kali ini ia menyapanya. “Win, kamu pulang dijemput atau enggak?” tanya Tiara ragu.
“Enggak. Emang kenapa?” jawabnya heran.
“Kamu mau nggak pulang sama aku?”
“Ayo pulang!” Wina lalu beranjak dari bangkunya.
 Tiara merasa heran dengan Wina. Ia tak mau ambil pusing memikirkannya, yang terpenting sekarang Wina mau menemaninya pulang. Setidaknya keberadaan Wina bisa membantunya mengurangi rasa takut dan cemas yang akan muncul nanti.
***
Jarak antara sekolah dengan rumah Tiara tak terlalu jauh. Tiara lebih memilih berjalan kaki setiap berangkat dan pulang sekolah. Wina selalu menoleh ke belakang. Melihat Wina sejak tadi seperti itu, Tiara menggandeng tangan Wina dan mempercepat langkah kakinya.
“Tiara, sepertinya cowok itu ngikutin kita,” bisik Wina ke arah Tiara. Wina kembali menoleh ke belakang. Terlihat cowok berkacamata itu masih mengikuti.
“Tiara, kenapa cepat-cepat sih jalannya? Capek tahu!” tanya Wina menatap aneh. Kedua kakinya masih berjalan cepat mengikuti langkah Tiara.
Kedua langkah kaki Tiara seketika berhenti. Wina pun ikut berhenti. Tiara menoleh ke belakang. Jarak cowok berkacamata itu dengan dirinya masih sangat jauh. Tiara pun mengatur napasnya yang terengah-engah.
“Tiara, sebenarnya ada apa sih? Kok kita jalannya cepat-cepat begini?” tanya Wina bingung.
Tiara menghembuskan napas panjang. “Cowok itu alasannya kenapa aku ngajak kamu pulang,” ucap Tiara takut.
“Maksudmu?” tanya Wina semakin bingung.
“Beberapa hari ini, cowok berkacamata itu selalu mengikutiku,” keluh Tiara,  “Makanya aku ngajak kamu pulang bareng. Aku takut pulang sendiri.”
Wina mengangguk-angguk seperti sedang memahami sesuatu. “Jadi gara-gara cowok itu kamu ngajakin aku pulang bareng?”
Tiara tersenyum malu. Ia lalu menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
“Mungkin saja dia suka sama kamu, Tiara. Bisa saja kan cowok itu pemalu seperti kamu. Mungkin dia ingin kenalan sama kamu, tapi malu,” tebak Wina.
Tiara menoleh ke belakang. Diliriknya jarak cowok berkacamata itu hanya beberapa langkah di belakangnya dan Wina.
“Sayang...”
Suara cowok berkacamata itu membuat Tiara dan Wina kaget. Tiara dan Wina saling menatap bingung. Beberapa detik kemudian cowok berkacamata itu berdiri di hadapan mereka.
“Sayang, kenapa kamu menghindariku? Ayo, pulang! Sebentar lagi kita akan menikah.” Cowok berkacamata itu lalu menarik tangan Tiara dan Wina.
Tiara dan Wina sangat ketakutan. Biasanya cowok berkacamata itu hanya mengikuti Tiara saja. Tapi sekarang cowok berkacamata itu menarik kasar tangannya dan juga Wina. Tiara mencoba melepaskan genggaman tangan cowok berkacamata itu, tapi genggaman tangannya terlalu kuat. Ia pun tak kehabisan akal. Ia segera menginjak kaki cowok berkacamata itu dan menendang keras perutnya. Cowok berkacamata itu menjerit keras. Tanpa sadar ia melepaskan genggaman tangannya. Kesempatan ini tak di sia-siakan oleh Tiara. Ia segera menarik tangan Wina dan berlari sekencang-kencangnya.
***
HAH! HAH! HAH!
Dengan napas tertengah-engah, Tiara mengunci pintu rumahnya. Badannya dan Wina lalu bersandar di balik pintu.
“Gila banget tuh cowok! Kasar banget! Seenaknya aja narik tangan kita. Belum kenal aja udah ngajak nikah. Pantas aja kamu takut sama tuh orang,” seru Wina ketus. Ia kembali mengatur napasnya yang masih terengah-engah.
Tiara merasa bersalah kepada Wina. Kalau bukan karenanya, Wina nggak akan mengalami kejadian seperti ini. “Maafin aku, Win! Seharusnya kamu sudah ada di rumah sekarang.”
“Nggak apa-apa kok. Nggak usah erasa bersalah gitu dong!” Wina menepuk pelan pundak Tiara.
“Kalian berdua ngapain di situ?” tanya ibu tiba-tiba muncul.
Tiara dan Wina sama-sama menoleh kaget. Tiara pun memperkenalkan Wina kepada ibu. Tiara lalu menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya dan Wina. Tiba-tiba ibu tertawa terbahak-bahak. Tiara dan Wina sama-sama bingung melihat ibu. Ibu segera menghentikan tawanya dan menceritakan cowok berkacamata itu pada Tiara dan Wina. Tiara tertegun mendengarnya. Rupanya cowok berkacamata yang selalu mengikutinya itu adalah orang gila. Dia gila karena gagal menikah dengan cewek yang di sukainya. Semua cewek yang dilihatnya pasti akan diikutinya dan di paksa menikah dengannya.
Wina tak kuasa menahan tawanya. “Jadi selama ini yang ngikutin kamu itu ternyata orang gila,” ucap Wina lalu kembali tertawa.
“Seharusnya kamu memberi tahu Ibu, Tiara. Jadi Ibu bisa meminta Ayah untuk antar jemput sekolah,” ucap ibu menahan tawa.
Wajah Tiara seketika memerah karena menahan malu. Setidaknya mulai besok, ia tak akan bertemu lagi dengan cowok berkacamata itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Misteri Wanita Berbaju Merah

Misteri Wanita Berbaju Merah Aku selalu melihatnya setiap kali melintasi halte bis. Seorang wanita memakai baju merah berdiri di ...