Kamis, 10 Agustus 2017

Salah Paham


SALAH PAHAM
Mita memasuki ruang kelas dengan wajah yang ceria. Hari yang baru di kelas yang baru. Tak terasa waktu berlalu sangat cepat. Kini Mita telah duduk di kelas XI. Seminggu lamanya ia merefleksikan otaknya yang diperas habis-habisan karena ujian semester kenaikan kelas, dan sekarang ia telah siap memulai kegiatan belajar dengan semangat yang baru. Kedua bola matanya tampak menikmati suasana ramai di kelas, mungkin para guru memberikan sedikit kelonggaran kepada muridnya karena hari ini adalah hari pertama masuk kelas setelah libur kenaikan kelas. Tiba-tiba kedua bola matanya terpaku pada seorang cowok yang sedang duduk sendirian di pojok kelas. Ia mengenalnya, sangat mengenalnya. Ia sama sekali tak menyangka ia akan berada dalam satu kelas lagi dengan cowok yang di kenal dengan nama Bima itu. Bima terlihat begitu serius dengan buru-buru yang dibacanya. Entah buku apa yang membuatnya begitu acuh dengan sekitarnya.
“Hoi!” tegur Tasya dengan suara yang mengagetkan. Pikirannya yang menjelajah dipaksa kembali ke dunia nyata.
“Apaan sih? Ngagetin aja!” Mita menoleh kaget pada sahabatnya itu. Ia terlihat kesal pada Tasya karena sudah membangunkan lamunanya.
“Abisnya, mata kamu tuh hampir copot gara-gara lihatin Bima melulu dari tadi! Dari pada lihatin Bima melulu, lebih baik samperin sana orangnya!” ucap Tasya sambil melirik.
“Apaan sih? Enggak kok! Siapa juga yang lihatin Bima?” kilah Bima dengan wajah yang merona.
“Apaan yang enggak? Udah deh samperin sana! Dari pada nyesel nanti! Makanya jadi orang jangan pemalu banget, Non!” celoteh Tasya. Tangannya tak henti-hentinya mendorong pelan tangan Mita, menyuruhnya untuk segera menghampiri Bima.
Sejak masuk SMA ini, perhatian Mita hanya tertuju kepada Bima. Wajahnya yang tampan dan tubuhnya yang tinggi semampai mebuat para cewek berlomba-lomba enarik perhatiannya. Tetapi bukan faktor itu yang membuat Mita mampu memandangnya selama berjam-jam, melainkan karena sebuah kacamata yang selalu bertengger di batang hidungnya. Baginya dengan memakai kacamata, Bima terlihat sangat teduh.
Setelah Mita bisa mengendalikan jantungnya yang terus berdetak kencang, akhirnya ia memberanikan diri untuk menghampiri Bia seperti yang dikatakan Tasya sahabatnya itu.
“Lagi baca apa? Kelihatannya asyik banget,” sapa Mita gugup.
Bima yang asyik membaca buku pun langsung mengangkat wajahnya dan menatap Mita. Mita langsung gelagapan. Jantungnya kembali berdetak kencang. Wajahnya pun seketika merona. Bima menatapnya bingung, “Kamu nggak apa-apa, kan? Kok mukamu merah begitu? Kamu sakit? Apa perlu aku antar ke UKS?”
Tasya tertegun mendengarnya. Hah, Bima mau nganterin aku ke UKS? Mimpi apa aku kemarin? Batinnya senang. Mita hanya bisa menggeleng pelan. Tiba-tiba saja mulutnya terasa kaku. Tak sepatah kata pun berhasil ia keluarkan dari mulutnya.
“Kamu beneran nggak apa-apa?” tanyanya kembali. Kali ini ada sedikit kecemasan yang terpancar di wajahnya.
“Aku nggak apa-apa kok! Maaf ya, sudah ganggu kamu! Aku ke sana dulu!” buru-buru Mita kembali ke bangkunya yang berada tepat di sebelah Tasya.
***
Sejak saat itu Mita akhirnya berhasil berteman dengan Bima. Mita yang selama ini hanya bisa memandangnya dari jauh, akhirnya bisa mengobrol dengannya dari jarak yang begitu dekat. Sebenarnya Mita tak mau berharap lebih dari sekedar teman. Baginya bisa menjadi temannya saja sudah cukup membuatnya bahagia. Tapi sudah beberapa kali Mita melihat Bima menatapnya. Ketika ia menatap balik Bima, Bima tersenyum dan memalingkan wajahnya begitu saja. Hal itu membuat jantungnya seketika berdetak cepat.
“Ngomong sana sama Bima kalau kamu suka sama dia!” ucap Tasya tiba-tiba.
Mita melotot. Sembarangan banget nih anak ngomongnya! Mengatakan suka sama Bima sama aja aku bunuh diri. Pastilah aku ditolak sama dia. Nggak lihat apa cewek-cewek yang mendekatinya pada cantik-cantik semua? Sudah bisa dipastikan aku bakalan ditolak sama dia! Batinnya.
“Kamu gila ya? Nggak mikir apa?” seru Mita ketus.
Tetapi Tasya sepertinya tidak peduli, “Dari pada dipendam! Nanti nyesel loh Bima diambil orang. Cowok ganteng kaya gitu kan banyak yang suka.”
Perkataan Tasya kali ini benar-benar mengusik pikirannya. Benar juga kata Tasya. Andai saja Bima tahu perasaanku, apa ia mau menerimaku? Pikirnya resah.
***
Hari ini Bima ulang tahun. Mita sengaja datang pagi-pagi sekali. Ia sudah menyiapkan kado spesial untuknya. Senyumnya terus mengembang di bibirnya yang mungil. Ia sudah tak sabar untuk memberikannya pada Bima sepulang sekolah nanti. Ia pun menyimpannya baik-baik di laci mejanya.
Satu persatu para penghuni kelas menempati bangku mereka. Mita merasa aneh karena Tasya sahabatnya itu belum juga datang. Padahal Tasya selalu tiba di sekolah pagi sekali ketika ruang kelas hanya terisi oleh beberapa murid, tapi pagi ini ia belum juga menampakkan batang hidungnya. Mita merasa bosan karena Tasya belum juga datang, di tambah lagi Bima pujaan hatinya pun juga belum datang.
Mita keliling di sekitar sekolah mencari Tasya. Tiba-tiba saja langkah kaki Mita terhenti. Kedua bola matanya terpaku menatap pemandangan yang ada di depan matanya saat ini. Mita sungguh shock melihat Bima sedang duduk berhadapan dengan Tasya. Mereka terlihat sangat akrab satu sama lain dan bahkan tawa riang terselip diantara percakapan mereka. Ita tak tahan lagi melihatnya. Ia langsung pergi meninggalkan mereka.
Sesampainya di kelas, Mita duduk termenung. Ia terlihat sangat kacau. Pikirannya sejak tadi terus menerka-nerka. Ia menatap kado di tangannya. Kenapa kau bisa berduaan dengan Bima? Apa hubunganmu dengan Bima, Tas? Apa kau juga menyukainya? Pikirnya resah.
“Apa itu, Mit?” tanya Tasya lalu duduk di sebelah Mita.
Mita cepat-cepat menyembunyikannya di laci meja dan menutupnya dengan tas ranselnya. “Bukan apa-apa kok!”
Tasya menatap Mita dengan menyelidik, “Beneran bukan apa-apa? Tapi kok bentuknya seperti kado?”
Mita menatap Tasya dingin, “Beneran. Ini bukan apa-apa!”
Tasya menatap aneh pada Mita. Perilaku Mita hari ini benar-benar aneh, tak seperti biasanya. mita bersikap dingin pada Tasya. Ia hanya bicara bila ada hal yang penting. Sepanjang hari Tasya tak melihat Mita mengobrol dengan Bima, bahkan ia terlihat berusaha menghindarinya. Sikap Mita hari ini benar-benar membuat Tasya bingung.
***
Beberapa hari ini sikap Mita semakin menjadi-jadi. Mita seperti menjaga jarak dengan Tasya dan Bima. Bahkan telepon dari Bima yang biasanya selalu buru-buru ia angkat pun dibiarkan berdering begitu saja. Baik Tasya maupun Bima sama-sama dibuat bingung oleh Mita.
Bel sekolah tanda pulang telah berbunyi. Mita cepat-cepat memasukkan bukunya ke dalam tas dann bergegas keluar kelas. Tetapi, ketika Mita hendak keluar dari gerbang sekolah, tiba-tiba saja Bima datang dan mencegatnya.
“Mit, aku mau bicara sama kamu!”
Mita menjadi canggung dan tak tahu harus berbuat apa sekarang. Kenapa sih dia ada di sini? Ku harus bagaimana sekarang? Pikirnya sebal sekaligus bingung.
“Mit!” panggilnya dengan nada yang agak tinggi.
Mita langsung menatap Bima. Ia terlihat sangat bingung. “Kenapa, Bim?”
“Aku mau bicara sama kamu! Hm, kita ngobrolnya di taman aja, ya?”
“Nggak usah! Di sini aja! Aku lagi buru-buru,” jawab Mita cuek.
Terlihat jelas di matanya Bima terlihat sangat gugup dan gelisah. Mita sendiri deg-degan dibuatnya. Ia terus saja mengatur napasnya, berharap agar detak jantungnya kembali normal.
“Sebenarnya beberapa hari ini kamu kenapa? Kulihat kamu sepertinya menjauhiku. Apa kamu marah sama aku?” tanya Bima memulai pembicaraan.
“Nggak kok. Kenapa juga aku harus marah sama kamu?” jawab Mita ketus.
“Sebenarnya... aku mau bilang kalau aku itu...”
“Aku itu apa?” potong Mita jutek.
Bima menatap lekat mata Mita dan dengan suara bergetar Bima berkata, “Aku suka sama kamu, Mit.”
Mita langsung terdiam. Ia sulit mempercayai pendengarannya sendiri. “Kamu suka sama aku? Apa aku nggak dengar?”
Bima tersenyum, “Kamu nggak salah dengar kok, Mit. Sejak pertama kau menghampiriku, aku sudah suka sama kamu.”
Wajah Mita merona seketika. “Tapi... aku lihat kamu dan Tasya....”
“Pantesan sikap kamu aneh begitu sama aku, ternyata gara-gara itu!” ucap Tasya tiba-tiba.
Mita menoleh kaget begitu mendengar suara Tasya yang sudah muncul di belakangnya. Ia lalu berdiri di sebelah Mita, “Aku sama Bima lagi membicarakan kamu, Non. Dia ingin menyatakan perasaannya sama kamu.”
Wajah Mita semakin merona. Ia malu sudah berpikir negatif terhadap Bima dan Tasya sahabatnya sendiri.
“Jadi, jawabannya apa, Mit?” tanya Mita penuh harap.
Mita tertunduk, “Aku juga suka sama kamu, Bim.” Hatinya sekarang berbunga-bunga. Ternyata perasaannya selama ini disambut baik oleh Bima.
“Cieee... yang baru jadian...,” goda Tasya membuat Bima dan Mita malu.
“Ayo pulang!” kilah Bima llau menggandeng tangan Mita. Mita mengikuti Bima dengan wajah yang bahagia.
          Tasya geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya. Ia pun segera mempercepat langkah kakinya menyusul Bima dan Mita yang semakin jauh meninggalkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Misteri Wanita Berbaju Merah

Misteri Wanita Berbaju Merah Aku selalu melihatnya setiap kali melintasi halte bis. Seorang wanita memakai baju merah berdiri di ...