Kamis, 10 Agustus 2017

Cokelat



COKELAT



Mata Zahra tak pernah lepas dari seorang cowok bernama Rafda. Setiap hari, tatapan matan matanya selalu tertuju pada segala gerak-gerik Rafda. Sejak pertama kali sekelas dengannya, perhatian Zahra memang hanya tertuju pada Rafda. Kemana pun Zahra berada, bayangan Rafda selalu saja menghantui pikirannya.
Sudah beberapa kali Zahra melihat Rafda terus menatap ke arahnya. Ia lalu menyunggingkan senyumnya yang manis ke arahnya. Tanpa ragu, Zahra langsung membalas senyumannya dengan menyunggingkan senyuman yang dibuatnya semanis mungkin. Tatapan dan senyuman Rafda selalu berhasil membuat detak jantung Zahra berdegup tak normal.
“Lihatin aja terus!” tegur Citra dengan suara yang mengagetkan. Pikirannya yang menjelajah pun dipaksa kembali ke dunia nyata.
“Apaan sih, Cit? Siapa juga yang lihatin dia?” kilah Zahra dengan wajah yang merona.
“Nggak usah bohong deh! Mulai tadi mata kamu hampir copot lihatin Rafda terus. Udah deh, samperin sana orangnya!” celoteh Citra.
Citra, sahabat Zahra sangat paham dengan tingkah Zahra. Sudah beberapa kali Citra eminta Zahra untuk segera menyatakan perasaannya pada Rafda. Lagi-lagi Zahra hanya mengendikkan bahu, tak tahu harus berbuat apa kepada Rafda.
“Hoi! Bengong lagi! Nggak bosan apa bengong terus?” ucap Citra ketus.
Wajahnya seketika merona saat matanya tak sengaja bertatapan dengan mata Rafda yang sedang menatapnya.
Melihat hal itu, Citra menghela napas panjang melihat tingkah Zahra yang tak bosan-bosannya menatap Rafda.
***
Pagi ini langit terlihat cerah. Satu per satu mulai memasuki kelas. Zahra dan Citra sudah duduk tenang di kelas. Mereka tampak asyik mengobrol. Kedua mata Zahra seketika terpaku pada Rafda yang melangkah memasuki kelas. Tiba-tiba saja Rafda berjalan menuju bangku Zahra dan Citra.
Zahra sangat terkejut melihat Rafda yang kini berdiri tepat di hadapannya. Hatinya sangat senang. Jantungnya pun berdetak sangat cepat. Bagaimana tidak senang, cowok yang selama ini selalu dipandangnya dari jauh, kini berhadapan langsung dengannya dengan jarak yang begitu dekat.
Rafda tiba-tiba mengeluarkan cokelat dari dalam tasnya. Terlihat jelas Rafda gugup dan gelisah. Zahra sendiri pun dibuat deg-degan karenanya.
“Aku suka sama kamu. Kamu mau nggak jadi pacar aku?” tanya Rafda yang kini menampilkan senyum malunya. Ia lalu menyerahkan cokelat yang dipegangnya kepada Citra.
Kedua bola mata Zahra terpaku menatap pemandangan yang ada di depan matanya saat ini. Hati Zahra terasa sangat sakit, rasanya seperti tersayat-sayat pisau. Kini ia tau hati Rafda ditujukan kepada kepada siapa. Ternyata selama ini tatapan matanya bukan ditujukan kepada Zahra, melainkan kepada Citra sahabatnya yang duduk di sebelah bangkunya.
Citra terdiam. Tak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya. Terlihat jelas di mata Zahra, Citra sangat kebingungan. Ia sama sekali tak menyangka kalau selama ini Rafda menyukai Citra. Ternyata selama ini, tatapan matanya tak mengarah pada Zahra, melainkan kepada Citra yang duduk di sebelahnya.
“Rafda, terima kasih atas kejujuranmu padaku. Aku minta maaf! Aku benar-benar bingung sekarang. Aku nggak tau harus jawab apa,” jawab Citra bingung sekaligus merasa bersalah.
Zahra tak bisa berbuat apa-apa. Ia tak berhak menyalahkan Citra. Rafda memang sosok sempurna di mata Zahra, tai rupanya perasaan Zahra tak disambut baik oleh Rafda.
“Sebaiknya kalian berdua jadi teman akrab dulu! Selama ini kalian nggak pernah ngobrol berdua kan, jadi menurutku kalian berdua pendekatan aja dulu,” saran Zahra tiba-tiba.
“Tapi, Zahra...,” ucap Citra tambah bersalah.
“Aku nggak apa-apa. Kalian kutinggal dulu, mumpung belum masuk kelas!” ucap Zahra lalu beranjak pergi meninggalkan Citra dan Rafda.
Zahra sengaja meninggalkan Citra berduaan dengan Rafda di kelas. Hatinya terasa sakit melihat mereka. Tapi apa yang bisa diperbuat, ia hanya bisa mengikhlaskan perasaannya. Ia tak tak bisa memaksakan perasaannya pada Rafda. Ia berharap suatu hari nanti, ia akan mendapatkan cokelat manis dari orang yang menyayanginya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Misteri Wanita Berbaju Merah

Misteri Wanita Berbaju Merah Aku selalu melihatnya setiap kali melintasi halte bis. Seorang wanita memakai baju merah berdiri di ...