Senin, 26 Juni 2017

Brownis



BROWNIS

“Yes. Selesai juga!” seru Irma. Ia tersenyum bangga melihat brownis yang dibuatnya tak gagal lagi.
“Wah, kayaknya enak tuh! Mama boleh coba nggak?” ucap mama tiba-tiba muncul dari balik pintu dapur.
Irma menoleh kaget begitu mendengar suara mama yang datang menghampirinya. “Boleh dong, Ma. Aku juga ingin tau, brownis buatanku kali ini enak atau enggak,” lanjut Irma antusias.
Mama langsung duduk dan mencomot brownis buatan Irma di piring. “Ini enak banget, Ir! Nih brownis kalau dijual pasti laku banget,” ucap mama dengan mulut yang hampir penuh dengan brownis.
Irma tersenyum malu mendengarnya. Akhirnya ia bisa juga membuat brownis. Ia tak sabar memberikan brownis yang susah payah ia buat selama ini untuk Aldi di ulang tahunnya nanti. Dari gosip-gosip yang di dengarnya di sekolah, Aldi sangat menyukai brownis. Karena itulah, selama ini Irma rela belajar membuat brownis.
***
Pagi-pagi sekali Irma sudah berada di sekolah. suasana di sekolah masih sangat sepi, hanya terlihat beberapa murid yang mengisi keheningan sekolah. kedua kakinya melangkah cepat menuju kelas. Sebuah senyuman sejak tadi tak henti-hentinya terukir manis di bibirnya yang mungil. Sesekali matanya menatap kotak hijau yang ia genggam erat-erat di kedua tangannya. ia sudah tak sabar memberikan brownis buatannya kepada Aldi.
Irma sering melihat Aldi berangkat pagi-pagi sekali. Aldi memang cowok populer di sekolahnya, bukan karena dikaruniai wajah yang tampan, tapi karena kepintaran yang sering membuat bangga sekolah. Karena hari ini adalah ulang tahun Aldi, Irma sengaja berangkat pagi-pagi sekali untuk memberikan brownis buatannya yang terbungkus rapi dalam kotak hijau.
Irma tak lantas menuju kelasnya. Matanya tertuju pada sebuah kelas. Kelas XI IPA 1 yang berada di sebelah kelasnya. Sejak tadi jantungnya terus berdegup cepat, melebihi kecepatan normal. Ia pun berusaha mengatur napasnya, berharap agar degup jantungnya kembali normal. 
Irma sudah berada tepat di depan kelas XI IPA 1. Matanya menatap ruangan kelas yang sepi. Benar dugaannya, Aldi sudah duduk tenang di bangkunya. Tapi, bukan kebahagiaan yang di dapatnya. Ia tampak sangat terkejut. Di sebelah Aldi, ada Lina yang duduk menemani Aldi di sebelahnya. Terlihat di matanya, Lina dan Aldi begitu mesra. Lina menyuapi brownis yang ada di atas mejanya kepada Aldi.  Irma sungguh schok melihat Aldi dan Lina berduaan. Irma tak tahan lagi melihatnya. Ia langsung pergi meninggalkan mereka.
***
Di kelas yang sepi, Irma duduk termenung seorang diri. Semua penghuni kelas sudah dalam perjalanan menuju rumah. ia sangat sedih. Hatinya benar-benar hancur sekarang. Sudah tak ada harapan sama sekali untuknya. Sekarang Aldi sudah memiliki pacar. Ia sadar kalau Lina lebih cantik dan supel bergaul, berbeda sekali dengan dirinya yang kuper. Ia hanya bisa mengikhlaskan perasaannya dan melupakan rasa sukanya kepada Aldi.
Aldi tiba-tiba datang menghampirinya. Kedua mata Irma hampir copot melihat Aldi yang tiba-tiba datang menghampirinya. Beberapa kali Irma mencubit tangannya, berharap ini bukanlah mimpi yang selalu diinginkannya.
“Auuugh.” Irma mengusap-usap tangannya yang kesakitan.
“Kamu nggak mimpi kok. Aku ke sini ingin mengambil kadoku,” ucap Aldi tersenyum.
“Kado? Kok bisa kadomu di sini?” tanya Irma bingung.
Aldi mengambil kotak hijau yang ada di depan Irma. Aldi membuka pelan-pelan kotak itu dan memakan brownis yang ada di dalamnya. “Ini brownis buatanmu? Enak banget.”
Irma mengangguk malu. Wajahnya seketika merona. Ia sama sekali tak menyangka Aldi mau memakan brownis buatannya.
“Aku suka sama kamu. Selama ini aku selalu melihat kamu, tapi setiap kali aku ingin mendekati kamu, kamu selalu menghindar. Aku bersyukur, gara-gara kartu ini, aku jadi tau perasaanmu yang sesungguhnya padaku,” ucap Aldi lalu menunjukkan kartu hijau.
“Ini... dari mana kamu dapat kartu ini?” tanya Irma terkejut sekaligus malu.
“Tadi terjatuh waktu kamu pergi. Kamu pasti salah paham soal aku dan Lina pagi tadi. Aku sama Lina nggak punya hubungan apa-apa,” jelas Aldi.
“Tapi, kalian berdua terlihat mesra.”
Aldi tertawa mendengar perkataan Irma. Aldi segera menghentikan tawanya saat melihat wajah Irma yang tampak kebingungan. “Mesra katamu! Mesra dari mana? Kalau dia tidak merengek terus, mana mungkin aku mau disuapin brownis sama dia. Lagi pula aku lebih suka brownis buatanmu daripada brownis yang di beli Lina di toko kue.” Aldi lalu menyuapkan brownis ke mulut Irma.
Irma menerimanya dengan malu-malu. Ia sama sekali tak menyangka perasaannya di sambut baik oleh Aldi. Ternyata rasa sukanya selama ini tak berbuah pahit seperti pikirannya tadi, tapi terasa manis seperti brownis yang dibuat spesial untuk pangeran tampannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Misteri Wanita Berbaju Merah

Misteri Wanita Berbaju Merah Aku selalu melihatnya setiap kali melintasi halte bis. Seorang wanita memakai baju merah berdiri di ...