Minggu, 31 Desember 2017

Nasib Si Gadis Populer



Nasib Si Gadis Populer
Seorang gadis berjalan dengan santai ke kelasnya seorang diri. Semua orang tertuju padanya. Gadis itu memang sangat populer di sekolah. Ia memiliki paras yang cantik dan tubuh yang semampai layaknya model. Ia juga sangat pintar dan selalu menduduki peringkat pertama. Karena itulah, ia meraih banyak penghargaan. Banyak perlombaan yang ia menangkan. Jangan heran kalau banyak yang mengaguminya, termasuk Rudi si ketua OSIS yang sampai saat ini masih berusaha mendekatinya.
Gadis itu memiliki seorang sahabat. Kemana-mana mereka selalu bersama-sama. Duduk di kelas bersama, makan di kantin bersama, bahkan pulang sekolah pun selalu bersama.
***
          Bel masuk telah berbunyi. Semua siswa berhamburan memasuki kelas masing-masing. Fira bersiap-siap menerima pelajaran pertama. Buku Matematika sudah ia letakkan di atas meja. Tanpa sengaja, Fira menemukan sebuah surat dan kotak di dalam laci mejanya. Seperti hari-hari sebelumnya, ia selalu mendapat sepucuk surat aneh. Bukan surat cinta yang diterimanya, melainkan surat yang berisi ancaman. Semula Fira mengabaikannya, tapi lama kelamaan, ia merasa terusik oleh surat-surat itu. Apalagi kali ini tak hanya surat saja yang diterimanya. Sebuah kotak aneh juga ada di dalam lacinya.
          Bu Rini, guru Matematika hari ini tidak masuk. Semua siswa yang ada di kelas menjadi sangat ribut. Kecuali Fira yang terlihat syok. Kedua tangannya memegang surat dan kotak aneh yang tak diketahui siapa pengirimnya. Fira memberanikan diri membuka kotak itu.
“Fir... Fir...  Kamu kenapa?” tanya Anggi menggoyang bahu Fira.
“Coba lihat deh Nggi!” ucap Fira sambil menyerahkan kotak aneh yang diterimanya.
“Apa ini Fir?” tanya Anggi bingung.
          Anggi terkejut melihat isi kotak itu. Kotak itu berisi beberapa foto Fira yang dicoret-coret dengan spidol merah. Anggi terdiam. Ia berusaha menenangkan Fira yang masih terlihat syok. Tiba-tiba mata Anggi melirik surat yang masih ada di genggaman Fira. Anggi pun kemudian menyuruh Fira membaca surat itu.
          Fira pun membaca suratnya. Wajah Fira makin syok, tak sepatah kata keluar dari mulutnya. Anggi yang panasaran, merampas surat itu dari tangan Fira.
Heh, Fira yang sok manis…
Gimana dengan kadonya ? Bagus kan. Ini baru awal. Masih banyak kejutan-kejutan lain yang bakal membuat hidupmu nggak lagi tenang.
          Anggi meremas-remas dan membuangnya. Anggi yang khawatir melihat keadaan Fira kemudian mengajaknya ke kantin.
***
          Di kantin, Fira sama sekali tak bicara. Minuman yang sudah di pesan Anggi, tak ia sentuh sama sekali. Wajahnya masih terlihat syok. Pandangannya terlihat kosong.
“Fir… Udah dong! Kamu jangan begini! Kamu minum dulu ya, biar pikiranmu agak tenang!”
“Bagaimana aku bisa tenang coba! Kamu lihat sendiri kan isi surat dan kotak itu apa!” jelas Fira sedikit kesal.
“Ya, aku paham, Tapi kalau kamu begini terus, yang ada si pengirim misterius itu tambah senang melihat kamu seperti ini,”
“Maaf ya, Nggi.”
“Nggak apa-apa kok. Ya udah, tenangin pikiranmu dulu. Kamu minum dulu biar tenang! Aku mau ke toilet dulu. Nggak tahan nih!” ucap Anggi nyengir dan berlalu meninggalkan Fira sendiri.
***
          Fira dan Anggi kembali ke kelas. Kondisi Fira sudah agak tenang. Terlihat semua siswa sudah duduk dengan tenang di kelas. Tak lama kemudian, Bu Friska masuk kelas. Semua siswa mengeluarkan buku Bahasa Indonesia yang akan mereka pelajari. Siska, si bendahara kelas terlihat panik. Ia terus mencari sesuatu di tasnya. Bu Friska yang melihatnya menghampiri Siska.
“Ada apa Sis?” tanya Bu Friska.
“Dompet saya hilang bu! Padahal tadi aku simpan di dalam tas,” jawab Siska panik.
“Apakah diantara kalian ada yang melihat dompet Siska?” tanya bu Friska kepada murid-muridnya.
“Nggak ada bu,” jawab seluruh siswa serempak.
“Bu, gimana kalau kita periksa semua tas yang ada disini. Mungkin aja dompet Siska ada,” usul Didin tiba-tiba.
“Ya bu, aku setuju dengan Didin,” sambung Leon.
          Akhirnya Bu Friska memeriksa semua tas. Satu per satu tas diperiksa. Sampai akhirnya tas Fira diperiksa. Bu Friska membongkar semua barang yang ada dalam tas Fira. Betapa terkejutnya Bu Friska ketika melihat dompet Siska ada di dalam tas Fira. Tak hanya Bu Friska saja. Anggi dan semua orang di kelas juga terkejut melihatnya. Fira bingung. Ia sama sekali tak tahu apa-apa tentang dompet Siska yang ada dalam tasnya.
***
          Fira akhirnya dipanggil ke kantor. Ia diinterogasi layaknya pencuri. Ia pun mendapatkan sanksi atas perbuatan yang sama sekali tak pernah ia lakukan sama sekali. Fira pun keluar kantor dengan wajah yang cemberut.
          Berita itu rupanya menyebar secara cepat hingga sampai ke telinga Rudi. Semua orang tak lagi menatapnya dengan penuh kekaguman, melainkan seperti pencuri yang baru lolos dari tahanan. Seisi sekolah terus membicarakannya.      Rudi menghampiri Fira yang sedang duduk sendiri di kantin. Wajah Rudi terlihat khawatir dengan keadaan Fira sekarang. Rudi tak percaya dengan berita itu. Tak sadar, air mata Fira menetes. Ia menjelaskan kepada Rudi bahwa ia tak tahu mengapa dompet Siska bisa ada dalam tasnya. Melihat Fira menangis, Rudi berusaha menenangkan Fira.
          Rudi berusaha membuat Fira tersenyum. Membuat lelucon bahkan mengubah wajahnya menjadi aneh pun Rudi lakukan. Usaha yang dilakukannya tak sia-sia. Fira akhirnya tersenyum. Sejenak ia dapat melupakan masalah yang menimpanya. Rudi menemani Fira kembali ke kelasnya.
***
          Di kelas, Fira merasa sangat tak nyaman. Semua orang yang ada di kelas menatapnya sinis. Mereka menjauhinya bahkan ada yang langsung mencacinya. Fira hanya duduk diam. Sebuah surat misterius tergeletak si atas mejanya. Betapa terkejunya Fira ketika membaca surat yang baru diterimanya.
Hai Fira,
Gimana nih rasanya di cap sebagai pencuri? Enak bukan? Ini baru kejutan pertama yang aku buat khusus buat kamu loh! Anak sok pintar dan sok manis sepertimu ini mungkin nggak akan puas hanya begini saja. Aku akan buat yang lebih sakit daripada yang ini. Selama menikmati kehidupan sebagai pencuri ya, anak pintar….
          Fira bengong. Rupanya orang yang tega melakukan ini padanya orang adalah orang yang selama ini mengirimkannya surat ancaman. Tiba-tiba Rudi menghampiri Fira di kelasnya.
“Woi…! kenapa kamu Fir?” tanya Rudi mengagetkan Fira.
“Ya ampun Rud, Untung jantungku nggak copot.”
“Habisnya kamu bengong. Emangnya mikirin apa sih?”
“Ini Rud!” Fira menyerahkan surat ditangannya.
“Surat apa ini Fir? Kamu dapat surat cinta ya? Yah keduluan deh aku.”
“Itu bukan surat cinta,” jawab Fira cemberut.
“Trus kalau bukan surat cinta, ini surat apaan dong!”
“Surat ancaman,” terang Fira singkat.
“Hah, surat ancaman!” ucap Rudi kaget.
          Rudi tak tinggal diam. Ia membantu Fira mencari pengirim surat itu. Sayangnya, Rudi dipanggil ke ruang OSIS. Fira akhirnya harus mencari sendiri. 
***
          Sejak tadi Fira tak melihat Anggi. Fira mencari-cari Anggi untuk membantunya mencari si pengirim surat itu. Ia pun menelusuri seluruh sekolah, tapi tak menemukannya sama sekali.
          Karena tak menemukannya, Fira kembali ke kelas. Ketika hendak masuk kelas, ia mendapati sosok Anggi berdiri di tempat duduknya. Ia melihat Anggi sedang tertawa sambil menaruh sepucuk surat ke dalam laci mejanya. Fira hanya diam dan melihat semua kelakuan Anggi ketika sedang tak bersamanya.
          Fira masuk ke kelas seperti biasanya, seolah tak tahu apa-apa. Fira memeriksa laci mejanya. Terdapat sebuah surat di dalamnya. Fira syok ketika membaca surat itu. Ternyata isi surat itu adalah ancaman yang selama ini ia dapat. Seperti dugaannya, surat ancaman yang selama ini di terimanya ternyata dari Anggi.
***
          Bel istirahat telah berbunyi. Semua siswa berbondong-bondong menuju kantin. Kelas sangat sepi. Hanya ada Fira dan Anggi saja di sana.
“Nggi, aku mau kamu jawab dengan jujur!” Fira memulai percakapan dengan tenang.
“Jawab apa?” tanya Anggi bingung.
“Apa kamu yang ngirimin surat ini?” tanya Fira sambil menyerahkan surat yang ada di lacinya.
“Nggak kok! Aku nggak pernah ngirimin surat sama kamu.”
“Bener bukan kamu. Trus yang aku lihat tadi siapa hah!”
“Maksudmu Fir?”
“Tadi aku lihat kamu memasukkan surat ini ke dalam laci mejaku,” Fira menatap lekat Anggi.
“Nggak kok. Kamu salah lihat kali,” jawab Anggi menyangkal.
“Kamu jangan bohong!”
“Cepat sekali ketahuannya,” ucap Anggi tersenyum sinis.
“Jadi benar kamu yang ngelakuin ini?” Fira mulai menangis.
“Ya, aku yang selama ini ngirimin surat itu sama kamu.”
“Kenapa Nggi? Apa salah aku sama kamu?” tanya Fira memegang tangan Anggi.
“Kamu  mau tau kenapa. Karena aku muak sama kamu. Fira... Fira... Fira... terus yang selalu dipuji. Semua orang mengagumimu layaknya seorang dewi. Sedangkan aku, aku cuma jadi bayangan kamu aja. Aku muak sama kamu! Aku jijik sama kamu!”
          Fira terdiam. Air matanya terus mengalir. Ia tak menyangka bahwa sahabat yang selama ini selalu bersamanya tega menerornya bahkan memfitnahnya seperti itu. Anggi kemudian pergi meninggalkan Fira yang menangis sendirian di kelas.
***
          Sejak saat itu, Fira tak lagi terlihat bersama dengan Anggi. Anggi bahkan memutuskan pindah tempat duduk. Fira yang tahu perbuatan Anggi kepadanya hanya diam. Ia tak menceritakan kepada siapapun termasuk Rudi. Ia masih menganggap Anggi sebagai sahabatnya. Ia berharap suatu hari nanti, Anggi dapat kembali menjadi sahabatnya.
            Semua orang masih menjauhinya, kecuali Rudi. Kini, Fira dan Rudi semakin dekat. Kemana-mana mereka selalu berdua. Bahkan sepulang sekolah, Rudi mengantarkan pulang. Fira sangat bersyukur. Walaupun ia kehilangan sahabat dan popularitasnya di sekolah, masih ada orang yang mau percaya kepadanya walaupun cuma seorang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wanita Di tepi Jalan

WANITA DI TEPI JALAN     Sudah hampir satu jam aku melihatnya di sana. Seorang wanita tua renta sedang duduk di tepi jalan. Pe...