Kamis, 21 Desember 2017

Bunuh Diri



BUNUH DIRI
“Kenapa tuh anak? Mulai tadi kulihat diam terus,” ucap Vina menatap gadis yang bernama Putri.
Lia hanya mengendikkan bahunya, tak tahu menahu tentang perubahan sikap Putri sahabatnya itu. Lia pun menghampiri Putri di bangkunya. Ia lalu mengempaskan dirinya di samping Putri. “Kamu kenapa? Sakit, ya?”
Putri menggeleng lemah. Ia tampak tak bersemangat. Wajahnya pun terlihat lesu.
“Kalau kamu ada masalah, cerita aja ke kita! Jangan sungkan-sungkan! Siapa tau kita bisa bantu,” lanjut Vina tiba-tiba muncul di samping Lia.
Putri kembali menggeleng lemah tak bertenaga. Sesekali ia menghembuskan napas panjang.
“Oh, iya... hampir aja lupa! Kapan acara pementasan drama di sekolah kita? Udah nggak sabar nih mau nonton. Kali aja aku ketemu sama cowok ganteng,” ucap Lia dengan genitnya.
“Minggu ini. Setelah itu aku bisa tenang,” jawab Putri dengan suara pelan.
***
“Maafkan aku! Aku sudah tak sanggup lagi menjalaninya. Lebih baik aku mati, meninggalkan kekejaman hidup yang tiada akhirnya ini. Selamat tinggal dunia!” ucap Putri menitikkan tetes-tetes air matanya. Ia lalu menaiki kursi yang ada di hadapannya dan berdiri tepat di hadapan seuntas tali yang tergantung melingkar di ujungnya. Ia menghembuskan napas panjang. Matanya tampak menerawang setiap sudut ruangan.
Bel tanda masuk kelas sebentar lagi berbunyi. Lia dan Vina mempercepat langkah kaki mereka menuju kelas. Langkah mereka tiba-tiba terhenti pada sebuah ruangan. Kedua mata mereka menangkap sosok yang sangat mereka kenal, Putri.
“Ngapain tuh anak? Kalau dilihat-lihat, seperti mau bunuh diri,” bisik Vina. Matanya kembali fokus pada gerak-gerik Putri.
“Aku juga nggak tau. Tapi dari gerak-geriknya, kayaknya beneran ia mau bunuh diri,” jawab Lia. Kini ia merasa cemas pada Putri.
Mata Putri kini kembali fokus pada tali yang ada di hadapannya. Tanpa membuang banyak waktu, ia memasukkan kepalanya ke dalam lingkaran tali di hadapannya. Ia kembali menghembuskan napas panjang. Wajahnya terlihat begitu muram.
Melihat gerak-gerik Putri yang semakin aneh, Lia dan Vina segera memasuki ruangan dan menghampiri Putri.
“Put, Cepat turun!” ucap Lia setengah berteriak.
“Kalau kamu ada masalah, cerita ke kita! Jangan seperti ini, pake acara bunuh diri segala. Ingat Ayah dan Ibumu, Put!” lanjut Vina cemas.
Putri menatap aneh pada Lia dan Vina. Ia pun langsung mengeluarkan kepalanya dan turun dari kursi. “Kalian berdua ngapain di sini? Pake acara ngganggu latihanku segala lagi.”
“Latihan?” tanya Lia kini menatap bingung padanya.
“Iya. Aku sedang latihan buat acara pementasan drama nanti,” ucap Putri kemudian menggandeng tangan Lia dan Vina. Ia lalu membawa Lia dan Vina keluar ruangan sambil menolehkan matanya pad murid-murid yang menatap mereka, “Maaf, ya semuanya!”
Lia dan Vina sama-sama bingung. Ruangan yang tadi terlihat kosong, ternyata penuh dengan beberapa murid yang kembali melanjutkan latihannya yang sempat tertunda.
“Kalian berdua di sini aja nontonnya! Aku mau lanjutin latihannya,”ucap Putri masuk ke dalam ruangan, meninggalkan Lia dan Vina di depan pintu ruangan.
Lia dan Vina sama-sama menghembuskan napas lega sekaligus malu karena kejadian tadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Wanita Di tepi Jalan

WANITA DI TEPI JALAN     Sudah hampir satu jam aku melihatnya di sana. Seorang wanita tua renta sedang duduk di tepi jalan. Pe...