Minggu, 30 Agustus 2020
TAKE MY HEART
BLURB
Bunga mawar adalah salah satu bunga yang disukai banyak orang, terutama oleh para cewek. Selain karena bentuknya yang indah, bunga mawar ternyata dianggap sebagai lambang cinta. Namun sayangnya, tak semua orang menyukai bunga mawar. Khalisha, gadis yang satu ini sangat membenci bunga mawar. Bahkan sekedar mendengar orang menyebut kata mawar saja, dia sudah merasa muak.
Hari-harinya di sekolah awalnya berjalan dengan normal seperti biasanya. Belajar, belajar, dan belajar, hanya itu satu-satunya kegiatan yang dilakukannya. Namun, hari-harinya mulai berubah ketika ia bertemu dengan seorang cowok populer di sekolahnya itu. Menyebalkan, dingin, dan kasar, begitulah pandangan Khalisha terhadap cowok itu. Sebenarnya, ia tak ingin berurusan dengan cowok itu. Ia ingin jauh-jauh darinya. Namun, cowok itu mengambil benda yang paling berharga dalam hidupnya. Mau tak mau, ia harus berurusan dengan cowok itu.
Penasaran dengan ceritanya? Yuk, ikuti ceritanya di Mangatoon setiap hari jum'at.
Minggu, 05 Januari 2020
Siapa Takut Tuk Jatuh Cinta
Blurb:
Setelah aku tahu bahwa Randi menyukai Anggini sahabatku, aku mencoba menutup pintu hatiku untuk orang lain. Aku takut bila diriku jatuh cinta lagi, hatiku akan kembali terasa sakit.
Di saat paling susah dalam hidupku, seorang siswa baru bernama Rico mencoba mendekatiku. Tingkahnya itu tentu saja membuatku menjadi bahan ejekan teman-teman sekelasku. Anggini yang biasa membelaku pun kali ini hanya diam membisu. Dia malah berterus terang padaku kalau dirinya suka pada Rico. Pernyataan Anggini itu tentu saja membuatku bingung. Di satu sisi aku tak ingin melukai perasaan Anggini, namun di sisi lain aku juga tak ingin menyakiti perasaan Randi. Apalagi, pernyataan Rico akan perasaannya padaku, membuatku semakin dilema.
Rico ternyata tak menyerah begitu saja. Ia berusaha meyakinkan keseriusannya padaku. Melihat keseriusan Rico padaku, aku tak ingin terus menerus mengalah. Aku juga ingin merasakan indahnya jatuh cinta bersama dengan orang yang kusukai.
Ingin tahu ceritanya seperti apa? Silahkan kunjungi wattpad Sky
https://my.w.tt/0L9VhfYeM2
Senin, 29 Juli 2019
Novel Tanpa Judul
Judul Novel : Novel Tanpa Judul
Penulis : Betry Silviana
ISBN : 978-602-0742-33-5
Penulis : Betry Silviana
ISBN : 978-602-0742-33-5
Jumlah Halaman: 95
Penerbit : CV. J-Maestro
Harga : Rp. 57.500
Tahun Terbit : 2018
Deskripsi novel :
Novel itu ditemukan di atas meja tamu. Tepatnya saat Ayya hendak mematikan lampu kristal di ruang tamu, ia melihat ada beberapa lembar kertas kuarto tergeletak di atas meja tamu.
Tak berapa lama setelah menemukan novel tanpa judul itu, satu per satu adiknya meninggal dengan cara yang mengerikan. Mereka semua sama-sama dibunuh oleh seseorang. Tak ada seorang pun yang tahu cara si pembunuh masuk ke rumahnya. Tak ada goresan atau apa pun yang mencurigakan pada pintu dan jendela rumahnya.
Ketika Ayya membaca novel yang ditemukannya itu, ia merasa kalau novel iu berhubungan dengan kematian adiknya. Sampai akhirnya, ia sendiri bertemu dengan dalang pembunuhan itu.
(Untuk pemesanan bisa hubungi WA : 0812078598569 )
Sabtu, 22 Juni 2019
Storial
Storial adalah sebuah platform untuk membaca novel secara gratis. Sama seperti halnya di Wattpad, kamu bisa menuliskan dan mengunggah ceritamu sendiri atau bersama dengan teman-temanmu. Di Storial kamu bisa mendapatkan royalti dari bab cerita yang kamu publish. Tak hanya itu saja, Storial juga sering mengadakan kompetisi menulis.
Mau menjadi bagian dari Storial? Kamu bisa mengklik di bawah ini. Mudah bukan?
https://www.storial.co/?ref=022uyobBTYPW3iNTDhghugZdHzliSmk/1dUlnxyOLXj1T6f5nAFH9fObUSq6/HHl
Mau menjadi bagian dari Storial? Kamu bisa mengklik di bawah ini. Mudah bukan?
https://www.storial.co/?ref=022uyobBTYPW3iNTDhghugZdHzliSmk/1dUlnxyOLXj1T6f5nAFH9fObUSq6/HHl
Sabtu, 06 April 2019
RUMAH KOSONG
Pagi ini cuaca terlihat
sangat cerah. Kedua kakiku kini berdiri tepat di luar pagar sebuah rumah. Rumah
itu terlihat sangat sederhana dengan pagar kayu yang membatasi antara rumah itu
dengan rumah yang lainnya.
Suasana di pedesaan memang
sangat berbeda dengan di perkotaan. Tak banyak lalu-lalang kendaraan bermotor
seperti di kota. Udaranya pun terasa bersih dan sejuk. Tinggal lama di
perkotaan, membuatku rindu akan suasana ini. Aku sangat menyukainya, begitu
hening dan tenang.
Aku menarik napas
dalam-dalam. Aroma bunga melati perlahan-lahan menyeruak masuk ke dalam hidungku.
Aku sama sekali tak terkejut akan hal itu. Di halaman depan rumah itu, banyak
sekali bunga melati yang tumbuh dengan suburnya. Melihat bunga-bunga itu tumbuh
dengan subur, pikiranku teringat pada ketulusannya merawat mereka.
“Loh Win, kenapa masih di
situ? Ayo masuk...!” tegur ibu yang berdiri di ambang pintu depan rumah itu.
“Iya, Bu.” Aku pun segera
melangkahkan kedua kakiku memasuki pagar itu.
Baru berdiri di ruang depan,
aku sudah terbatuk beberapa kali. Banyak sekali debu yang bertebaran di
mana-mana. Sangat jelas sekali bagiku kalau rumah ini sudah lama tak
dibersihkan. Aku melangkah masuk lebih dalam ke rumah itu. Kedua mataku
tiba-tiba tertarik pada sebuah kamar. Entah ini cuma perasaanku atau bukan, aku
merasa ada seseorang yang sedang menatapku sekarang.
Bagiku, rumah sederhana ini
adalah rumah yang penuh dengan kenangan indah. Dikelilingi banyak cinta dan
pelajaran akan hidup yang kudapat di dalam rumah ini. Biasanya setiap pagi tiba,
nenek selalu mengambil air di bak dan pergi ke halaman depan untuk menyiram bunga-bunga melatinya yang tumbuh di
halaman depan rumah. Maka tak heran bila banyak sekali bunga melati yang tumbuh
dengan suburnya di sana. Aku tak tahu kenapa nenek sangat menyukai bunga
melati. Tetapi saat melihat ketulusan yang terpancar di wajahnya, hatiku
menjadi tenang dan damai.
“Wina, kenapa berdiri di
situ? Ayo ke sini...!” tegur nenek tiba-tiba. Tangan kanannya masih memegang
gayung yang berisi air.
Tanpa berkata apapun, aku
langsung melangkahkan kedua kakiku menghampiri nenek. Dengan inisiatifku
sendiri, aku mengambil gayung nenek dan menciduk air di ember untuk menyiram
bunga-bunga melatinya.
“Nek, kenapa nenek suka sama
bunga melati? Padahal bunga yang lebih cantik kan banyak?” tanyaku sembari
menyiram bunga melatinya.
Nenek tersenyum menatapku. Dengan
parasnya yang lembut, ia berkata, “Bunga melati adalah bunga yang penuh
kenangan bagi Nenek dan Kakek. Dahulu ketika Nenek dan Kakek masih muda,
Kakekmu sering memberikan bunga melati yang masih hidup kepada Nenek. Saat itu,
kehidupan Kakekmu sangat susah. Jangankan untuk beli bunga, untuk makan saja
Kakekmu harus bekerja seharian. Karena saat itu bunga melati mudah didapatkan,
Kakekmu memberikan bunga melati yang dicabutnya kepada Nenek. Kata Kakekmu,
bunga melati adalah simbol dari cintanya yang tulus kepada Nenek.”
Aku tertawa kecil saat
mendengar perkataan nenek. Aku tak pernah menyangka kalau dulunya kakek sangat
romantis kepada nenek. Aku bisa melihat wajah nenek yang seketika merona karena
malu. Bagiku, kakek dan nenek adalah saksi akan adanya cinta sejati. Bahkan
hingga di usiaku yang 18 tahun ini, kakek dan nenek masih terlihat mesra.
Seringkali kulihat mereka bergandengan tangan ketika berjalan-jalan. Walau
terkadang aku juga melihat salah satu di antara mereka tersulut emosi untuk
masalah-masalah yang menurutku tergolong kecil.
“Win...! Wina...!” panggil
nenek dengan suara yang mengejutkan.
Panggilan nenek membuatku
tersadar akan lamunan sesaatku akan mereka. Kedua mataku segera kembali fokus
ke arah nenek.
“Kenapa bengong?” tanya
nenek menatap aneh ke arahku.
“Nggak apa-apa kok, Nek,”
jawabku spontan. “Oh ya, Kakek mana? Kok mulai tadi nggak kelihatan?”
“Mungkin Kakekmu ada di
belakang. Coba aja ke sana.”
“Kalau begitu, aku temui
Kakek dulu ya Nek.” Aku menyerahkan gayung kepada nenek dan pergi menghampiri
kakek di halaman belakang rumah.
Kakek adalah laki-laki yang
paling sabar dan paling tangguh yang pernah kukenal. Selama ini, aku tak pernah
melihatnya mengeluh akan kehidupannya. Seringkali aku melihat nenek mengomel
pada kakek yang terlalu banyak bekerja. Aku bisa mengerti alasan nenek mengomel
kepada kakek. Nenek hanya tak mau kakek terlalu capek dan akhirnya sakit karena
terlalu banyak bekerja. Tetapi begitulah kakek. Kakek tak pernah bisa diam lama-lama
di rumah. Maklum saja, ketika masih muda kakek adalah seorang pekerja keras. Mungkin
saja, tangan dan kakinya gatal kalau tak melakukan sesuatu.
“Kakek lagi ngapain?”
tanyaku menghampiri kakek.
“Kamu mau bantu Kakek, Win?”
Aku menatap bingung ke arah
kakek. Kakek lalu memintaku untuk memegang beberapa batang singkong yang telah
dipotong-potongnya. Satu
persatu batang singkong yang ada di tangannya mulai ditanam ke tanah.
“Kakek ngapain?” tanyaku
kembali.
“Kakek lagi tanam singkong.
Daripada kamu berdiri di situ, mendingan kamu bantu Kakek tanam batang
singkongnya.”
“Kenapa
Kakek harus repot-repot tanam singkong? Kakek kan sudah nggak muda lagi. Nanti Kakek
kecapekan lagi. Kalau Kakek mau makan singkong, aku bisa belikan di warung
sebentar.”
Kakek seketika menghentikan
tangannya menanam singkong. Ia lalu menatap tajam ke arahku. Tatapan kakek yang
seperti itu membuatku jadi takut.
“Apa aku salah? Maaf ya,
Kek...! Aku sama sekali nggak bermaksud menyinggung Kakek.”
Kakek tertawa kecil
melihatku. Ia lalu berkata, “Kamu sama sekali nggak salah, Win. Kakek hanya
suka melihat wajahmu kalau takut seperti itu.”
Aku seketika menggembungkan
kedua pipiku. Ada rasa kesal dan juga lega karena kakek ternyata sama sekali tak
marah kepadaku.
“Apa kau tahu, Win? Ketika
masih muda, Kakek harus bekerja keras untuk makan sehari-hari. Bila saat itu Kakek
nggak punya uang, singkong yang Kakek tanamlah yang menjadi pengganjal perut.
Terkadang Kakek sangat sedih melihat anak-anak jaman sekarang. Benyak dari mereka
yang hanya mengandalkan kekayaan kedua orang tuanya tanpa tahu bagaimana
capeknya mencari uang. Banyak dari mereka yang meminta uang untuk membeli
barang-barang mewah tanpa tahu betapa lelahnya mencari uang untuk memenuhi
keinginan mereka. Beda sekali dengan jaman Kakek dulu yang harus bekerja dulu
baru bisa makan.”
“Maafkan aku, kek...! Aku
tidak tahu kalau hidup Kakek ternyata seperti itu,” ungkapku merasa bersalah.
“Tidak apa-apa, Win. Kakek
berharap kamu akan menjadi orang yang sukses, tak seperti Kakekmu ini yang
harus bekerja keras hanya untuk sesuap nasi. Bila sudah sukses nanti, kamu
jangan pernah sombong dan juga boros. Hiduplah sedernana...!”
Kata-kata pada saat itu
adalah kata-kata terakhir yang kudengar dari kakek dan nenek. Tak lama
sepeninggal kakek, nenek pun pergi meninggalkanku selama-lamanya. Sejak
kepergian kakek dan nenek untuk selama-lamanya, aku tak pernah lagi mengunjungi
rumah mereka. Rumah mereka dibiarkan kosong tak terurus. Tak ada alasan bagiku
untuk kembali ke rumah itu.
Hari ini tepat 6
tahun, aku kembali lagi ke rumah yang penuh dengan kenangan ini. Kuharap sekarang
kakek bisa melihat bahwa harapannya saat itu kepadaku telah terjadi. Aku sudah menjadi
seorang gadis yang sukses seperti yang ia harapan. Terlebih lagi, aku akan segera
menikah dengan seorang pria yang tulus mencintaiku dan menerimaku apa adanya.
Aku berharap, di kehidupanku nanti akan seperti kakek dan nenek yang selalu
setia sampai akhir hayat hidup mereka.
Minggu, 12 Agustus 2018
Wanita Di tepi Jalan
WANITA DI TEPI JALAN
Sudah hampir satu jam aku melihatnya di sana. Seorang
wanita tua renta sedang duduk di tepi jalan. Penampilannya terlihat sangat
lusuh dan juga kotor. Aku bisa menebak kalau wanita tua itu sama sekali belum
membersihkan tubuhnya. Tetapi aneh sekali. Aku sama sekali tak melihat ada
siapa pun yang menemaninya duduk di tepi jalan.
Teriknya sinar matahari sama sekali tak membuatnya
terganggu. Ia sama sekali
tak bergeser dari tempatnya duduk. Sesekali ia mengelap keringat yang mengalir mengenai
keningnya. Tatapan mata wanita tua itu tertuju pada orang-orang yang
berlalu-lalang melewatinya. Beberapa kali kulihat wanita tua itu menadahkan
tangannya, meminta bantuan kepada orang-orang yang melewatinya. Tetapi
sayangnya, tak ada satu pun dari mereka yang terketuk hatinya untuk membantu
wanita tua itu.
Di saat aku berharap
ada seseorang yang peduli pada wanita tua itu, ternyata aku sendiri sudah
mengabaikannya. Sejak tadi aku hanya melihatnya di kejauhan, tanpa ada pergerakan
apa pun untuk membantunya. Seketika itu juga, aku melangkahkan kedua kakiku
menghampirinya. Aku langsung mengambil beberapa lembar uang dan memberikannya
pada wanita tua itu. Dengan matanya yang berkaca-kaca, wanita tua itu mengambil
uang yang kuberikan padanya. Aku bisa melihat ada kegembiraan yang terpampang
di wajahnya saat menerimanya. Saat aku melihat wajahnya, aku bisa merasakan
kedamaian di dalam hatiku.
Kamis, 28 Juni 2018
Viewfruit
Apa itu Viewfruit?
Viewfruit adalah salah satu situs Paid Survey Online Terkemuka&Terpercaya di Indonesia.Kemuculannya sudah cukup lama di dunia survey online Indonesia. Biasanya Viewfruit mengirimkan minimal 1 survey perhari bahkan terkadang situs ini mengirim hingga 4 undangan survei dalam sehari dengan poin yang cukup tinggi kisaran 100-500 poin /survei.
Saya telah bergabung dengan 'Viewfruit', Saya dan teman teman menulis kehidupan harian kita di dalam blog, berbagi suasana pengalaman hati masing masing: Waktu Luang, kami berbuat survei dan survei bisa member kita bisa mendapatkan uang. Mari bergabung sama kami, Asyik loh! http://id.viewfruit.com/Index/register/inviteid/MTY4OTY0Njo2N1M5N1Q4UkRTVkZFUkFRUjc1Nw==.html
Viewfruit adalah salah satu situs Paid Survey Online Terkemuka&Terpercaya di Indonesia.Kemuculannya sudah cukup lama di dunia survey online Indonesia. Biasanya Viewfruit mengirimkan minimal 1 survey perhari bahkan terkadang situs ini mengirim hingga 4 undangan survei dalam sehari dengan poin yang cukup tinggi kisaran 100-500 poin /survei.
Situs ini saya rekomendasikan kepada kalian sebab kelebihan yang salah satunya sudah saya sebutkan di atas,
selain itu jumlah minimum poin untuk bisa ditukar menjadi uang tunai juga kecil
yaitu 2500 poin = $ 5 atau setara dengan 500 poin = $1 via Paypal.
Untuk membuktikan apakah benar, silahkan kalian segera mendaftar ! Saya telah bergabung dengan 'Viewfruit', Saya dan teman teman menulis kehidupan harian kita di dalam blog, berbagi suasana pengalaman hati masing masing: Waktu Luang, kami berbuat survei dan survei bisa member kita bisa mendapatkan uang. Mari bergabung sama kami, Asyik loh! http://id.viewfruit.com/Index/register/inviteid/MTY4OTY0Njo2N1M5N1Q4UkRTVkZFUkFRUjc1Nw==.html
Sabtu, 12 Mei 2018
Misteri Wanita Berbaju Merah
Misteri Wanita Berbaju Merah
Aku selalu melihatnya setiap kali melintasi halte bis.
Seorang wanita memakai baju merah berdiri di sana. Tatapan matanya terlihat
kosong, seperti tak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Matanya selalu tertuju
pada toko bunga di seberang jalan. Dia sama sekali tak menunjukkan pergerakan
apapun. Dia tetap saja berdiri seperti patung di antara kerumunan orang-orang.
Rasa penasaran selalu muncul setiap kali aku
melihatnya, tapi anehnya ada perasaan lain yang menahanku untuk tidak
menghampirinya. Entah apa yang membuatnya betah berlama-lama di sana. Bagiku,
sangat membosankan bila hanya menatap toko bunga itu tanpa masuk ke dalamnya.
Tapi yang lebih membuatku penasaran, wanita berbaju merah itu selalu hilang
setiap kali senja tiba.
Seperti hari-hari biasanya aku pulang ke rumah ketika
langit mulai berwarna orange lembut. Aku berlari kecil menuju halte bis.
Lagi-lagi, aku melihat wanita berbaju merah itu berdiri di sana. Aneh sekali,
bis yang biasa menjadi alat transportasiku menuju rumah belum juga datang.
Kulihat wanita berbaju merah itu tiba-tiba melangkahkan kakinya melintasi
lalu-lalangnya kendaraan. Sebuah mobil terlihat melaju cepat ke arahnya.
“Awas, mobil!” teriakku spontan ke arahnya.
Bukannya menolong wanita berbaju merah itu,
orang-orang malah menatapku aneh. Aku tak memperdulikan mereka, yang
kuperdulikan saat ini hanyalah keadaan wanita berbaju merah itu. Aku melangkah
maju, menerobos kerumunan orang-orang yang sedang menunggu bis. Betapa
terkejutnya aku saat melihat wanita berbaju merah itu tak ada. Bulu kudukku
seketika meremang. Semilir angin sayup-sayup menerpa ke arahku.
Tiba-tiba aku teringat cerita orang-orang mengenai
kejadian tragis di halte bis itu. seorang wanita berbaju merah selalu berdiri
di sana. Dia selalu menatap ke arah toko bunga di seberang jalan. Kabarnya,
wanita berbaju merah itu menjadi gila karena kematian kakaknya. Dia menyalahkan
dirinya atas kematian kakaknya. Kalau bukan karena menuruti keinginannya,
kakaknya tak akan membeli bunga di toko itu dan tergesa-gesa menyeberang jalan.
Pada tanggal yang sama dengan kematian kakaknya, dia bunuh diri di tengah jalan
dekat halte bis itu saat senja tiba. Dia berdiri di tengah jalan hingga
akhirnya sebuah mobil melaju kencang dan menabraknya hingga tewas.
Tepat di tengah
jalan, wanita berbaju merah itu menatapku dengan seringainya yang menakutkan.
Entah kenapa kedua mataku dapat melihat dengan jelas warna merah pada bajunya,
warna merah darah. Aku bergindik ngeri melihatnya. Wajahnya kini terlihat
pucat. Buru-buru aku masuk ke dalam bis yang kini terparkir di depanku.
Langganan:
Postingan (Atom)
TAKE MY HEART BLURB Bunga mawar adalah salah satu bunga yang disukai banyak orang, terutama oleh para cewek. Selain karena bentuknya yan...

